Searching...
June 20, 2013

talijiwo IQ melati


ini postingan bukan posting tentang wayang !! ane suka wayang tapi itu entar-entar dulu deh. ini posting tentang puisi yang dibikin sama dalang+puisi yang dibikin sama (mantan) mahasiswa sastra [maksudnya ane sendiri]

ane beberapa bulan yang lalu beli buku jiwo j#ncuk sama Republik #Jancukersnya mbah Sujiwo Tejo. awalnya ane tau tentang mbah Jiwo ini tuh dulu banget, pas lagi jaman-jamannya jualan susu. ceritanya kan ngiklanin jualan susu lewat twitter, nah waktu itu dikasih tau buat ngefollow mbah Jiwo. twitnya emang makjreng, recommended banget buat di follow.

ane sebenernya lagi ngoleksi bukunya, atau minimal ya baca semua deh meskipun minjem hehe. ada yang punya ga? ane pinjem sih,

sampe sekarang, mbah jiwo masih tetep rajin ngetwit. mbah bilang kalo dia ngetwit itu ya sebagai dalang modern, yang cara nyampein ide dan gagasan ga cuma lewat kelir wayang, ngikutin generasi modern jadi lewat twit. gitu, bukan alay2an nyampah hehe

tiap mbah jiwo ngetwit, biasanya mbah jiwo itu ngetwit dengan hashtag #talijiwo. kalo mau tali jiwo khas dar mbah jiwo tedjo, klik aja disini coy nih disini klik aja ayo buruan :3

buat yang belum mudeng, baca aja dulu talijiwonya. kalo punya twitter, di favorite aja dulu. dibaca, ntar  lama2 pasti tau deh maksudnya mbah jiwo apa.

bocoran: mbah jiwo kalo ngetwit #talijiwo, pasti nulis Kekasih pake 'k'-nya kapital. misal ini :

Ada guguran sayap capung pada tiap jejak kakimu di laut pasir, Kekasih, sampai tak kuasa lagi aku terbang menggapaimu ..#talijiwo

kalo yang dibawah ini mah bikinannya ane sendiri talijiwonya. hehe baca aja deh, biasanya si ane posting di fb, tapi ini ane jadiin satu. ntar ane update terus kalo ada inspirasi buat bikin talijiwo sendiri...


Di pemakaman berkalang senja kau tunduki nisan seakan aku yang telah tiada, gadis, walau yang mati itu baru nyaliku

Tahukah kau manusia paling tak berperasaan di muka bumi? Dia yg jauh dr pujaannya saat hujan tp tak ia tulis satupun puisi--reminder *editantalijiwo

Malamku malam memadu menuai senyummu, gadis, di fajarmu ku berlabuh--*semacam talijiwo

bola pingpong dimana pun sama, gadis, sama seperti 360 derajatlah kebingunganku jika kau hilang--*semacamtalijiwo

Ladang pun dimanapun sama, gadis, disanalah aku menimba sumur senyum samar semarakmu

Shubuh melumpuhkan tubuhku, gadis, sampai ketika siluetmu menyiletkan luka ketika fajar tiba

Dalamnya malam, apakah kau tau, gadis? kuteriakkan pagi selagi malammu menemaramkan gumaman

Bagiku mandi tidak ada gunanya, gadis, semenjak peluhku menyatu dengan tangismu, akan ku seka dengan apa air suci tiu?

Mana yang harus ku syukuri, gadis, melihat senyummu atau jingga senja itu?

Kampus ini begitu luas, gadis, luasnya begitu mengecilkan nyaliku

Ketika ak menciptakan rasa nyaman untukmu, apakah ak telah lalai dan durhaka kepada sang Pencipta, gadis?

Lalu biarkanlah rambutmu tergerai, gadis, karena angin itulah jemariku

Meskipun diam, gadis, suaramu cukup keras di kepalaku

Ku petikkan melodi, gadis, ku ketikkan detak detik rindu semu yang menjemukan
Di lembutnya malam kau terjaga, gadis, karena fajarku hanya meninabobokanmu

Ketika kau bertanya siapakah yang kusebut gadis, wahai gadis, akankah kau mengorek kebenaran dariku sebenarbenarnya benar?

Langit malam dimanapun sama, gadis, begitu pekat ingatanku tentang senyumanmu

Debat dimanapun sama, gadis, disanalah kita mencari menelaah mengolah justifikasi hubungan kita

senjaku memuramkan, gadis, ketika fajar temaram surammu bermalam

Jadi untuk apalah aku membeli kamera, gadis, karena senyummu selalu ada di frameku

Kuteriakkan malam, gadis, supaya pagimu tak terusik siang menyengat

Kau ambil senapan itu, gadis, buru memburu cemburu jadi permainanmu

Buanglah pisaumu, gadis, sikapmu itu pun sudah cukup untuk menyayatku

Dunia begitu luas, gadis, tapi bagiku hanya seluas layar LCD saat menatapmu

Dibalik daun ku sembunyi, gadis, karena anginmu akan membawaku turun ke tanah, membumi jiwa

Entahlah gaharu atau cendana, gadis, ugaharimu selalu membahana

Kau tabrak gerimis, gadis, miris tetap mengiris walaupun kuat berkutat didalam malam

Selalu berpuisilah, gadis, sastra mana yg lebih menyentuh dibanding guraumu di senja lalu

Ketika kata tak kuketikkan, gadis, senyum-senyum memilukan

1 komentar:

Post a Comment

 
Back to top!