Searching...
January 01, 2012

Brother Sister Complex?



Mungkin dari kita pernah melakukan hal ini. Kita seolah-olah berakting, bertindak atau memposisikan diri kita sebagai big brother untuk seseorang. Atau mugkin malah kebalikannya, kita memposisikan diri sebagai adik dari seseorang. Menciptakan suatu hubungan kakak beradik yang baru dengan orang lain, kalo aku lebih menyebut hal ini sebagai kakak atau adik ketemu gede.
Kadang dua orang teman yang sangat dekat, berpautan umur yang tidak begitu jauh cenderung melakukan hal ini. Ada satu pihak yang dituakan, dan yang lain sebagai adik yang manja. Biasanya pelaku kakak ketemu gede ini didorong oleh realita yang berkebalikan. Misal, di satu sisi ada seorang cewek yang menjadi anak sulung dalam keluarga. Di lain sisi ada seorang cowok yang menjadi anak bontot dalam keluarga. Karena si sulung tidak pernah merasakan rasanya mempunyai seorang kakak dan si bontot tidak merasakan rasanya punya adik, mereka saling mengisi kekosongan itu. Terciptalah akhirnya hubungan kakak ketemu gede tersebut.
Lucu memang kalo kita bertindak sebagai penonton yang memperhatikan dua orang menjalin hubungan seperti ini. Semacam julukan atau penamaan tertentu dikedepankan. Ada yang standar, memanggil abang, kakak, dan sebutan yang lain kepada ‘kakak’ barunya. Sementara itu ada pula yang menggunakan bahasa asing (onii-chan atau aa). Entah sebenarnya apa tujuan penamaan baru ini. Mungkin memberi efek cute sebagai bumbu dalam jalinan kakak dadakan. Menurut buku linguistik yang aku baca, vocative atau penamaan memang menunjukkan adanya perbedaan status dan seberapa banyak perasaan dituangkan.
Yang melakukan hubungan kakak instan seperti ini terlihat lebih mesra daripada pasangan pacaran dari luarnya. Sering malah dikira mereka adalah pasangan yang pacaran. Asal tidak melewati garis, tidak ada yang salah dari hubungan kakak instan ini.
Yang terjebak diantara perasaan suka dan sahabat seringnya melewati garis ini. Sebenarnya memiliki perasaan suka didalam hati. Namun ketika menganggap hubungan kakak instan ini juga tidak begitu buruk, disitulah kesalahan terjadi. Terombang ambing dalam dua perasaan tadi hanya membuat semuanya menjadi buruk nantinya. Persahabatan harus dihinggapi benalu perasaan suka. Kalau akhirnya berpacaran, itu hak mereka. Kalau memang suka, jalinlah hubungan dengan tujuan ingin terus disampingnya dengan perasaan suka tersebut. Bila tidak, apakah harus berkedok persahabatan kakak instan demi melakukan pendekatan ke orang yang kita suka? Perlu pembedaan suka dan sahabat.
Penting pula memperhatikan perasaan orang lain dalam jalinan kakak instan. Demi egoism pribadi, perlukah menyakiti perasaan orang lain dengan terus melakukan hubungan kakak instan? Ambillah contoh, anda seorang perempuan yang tengah menjalin kasih dengan pacar anda. Disaat yang bersamaan, anda juga memiliki kakak instan yang mungkin sudah bertahun-tahun anda anggap kakak bahkan sebelum berpacaran dengan pacar anda. Ketidak pekaan anda menyebabkan perasaan cemburu itu menumpuk dan membesar. Sakit hati? Mungkin. Ketika emosi tertumpuk ini meluap, justru anda yang menanggung dampak negatifnya.
Lepas dari semua itu, persahabatan memang begitu indah. Dan persahabatan lewat jalinan kakak instan juga tidak lebih buruk dari persahabatan pada normalnya. Asal, jaga perasaan diri sendiri dan juga orang lain. Dari persahabatan akan ada banyak pendewasaan diri ditemukan. Jadi jangan kedepankan egoism pribadi demi perasaan suka yang mungkin sementara, yang membuat persahabatan terluka. Dewasa itu bukan lewat  egoism kok :)

7 komentar:

Post a Comment

 
Back to top!